RAINHA BOKI RAJA,
Ratu Ternate Abad ke-16
Kisah Heroik Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad ke-16 yang Dihapus Sejarah
Nusantara menyimpan banyak rekam jejak pemimpin perempuan yang luar biasa, namun sayangnya, beberapa di antaranya seolah sengaja dihilangkan dari ingatan publik. Salah satu sosok tangguh tersebut adalah Boki Nukila, yang lebih dikenal dalam catatan bangsa Portugis sebagai Rainha Boki Raja (Ratu Boki Raja).
Kisah hidup Sang Ratu di Kepulauan Maluku pada abad ke-16 bukanlah sekadar epik kejayaan masa lalu, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan, intrik politik, dan perlawanan anti-kolonial yang sangat heroik.
Ia mengerahkan kemampuannya sampai batas akhir, dalam menghadapi kemelut di Ternate dan Tidore pada masa kolonialisme-imperialisme Barat. Ia juga melawan budaya patriarki yang dominan, dalam kekuasaan dan masyarakat zaman itu. Ternate merupakan salah satu kerajaan maritim tertua dan terbesar yang berpusat di Maluku Utara, dan masih ada sampai hari ini. Usianya mencapai 750 tahun Sejak Indonesia merdeka, Kesultanan Ternate berstatus warisan budaya, bukan lagi negara berdaulat.
The Heroic Tale of Rainha Boki Raja: The 16th-Century Queen of Ternate Erased from History
The Indonesian archipelago (Nusantara) holds numerous records of extraordinary female leaders, but unfortunately, some appear to have been deliberately erased from public memory. One such resilient figure is Boki Nukila, better known in Portuguese historical records as Rainha Boki Raja (Queen Boki Raja).
The Queen’s life story in the Maluku Islands during the 16th century is not merely an epic of past glory; it is a profound human tragedy, a tale of political intrigue, and a fiercely heroic anti-colonial resistance.
She pushed her abilities to the absolute limit to navigate the turmoil in Ternate and Tidore during the era of Western colonialism and imperialism. Furthermore, she defied the dominant patriarchal culture deeply rooted in the power structures and society of her time.
Ternate itself is one of the oldest and largest maritime empires centered in North Maluku, and it continues to exist today. Spanning a history of 750 years, the Sultanate of Ternate—since Indonesia’s independence—now holds the status of a cultural heritage rather than a sovereign state.
